REVOLUSI LAGU KERONCONG DALAM KARYA MUSIK KAJIAN: GRUP KERONCONG CONGROCK 17

Ibnu Amar Muchsin

Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati Semarang

E-mail: amarflute@gmail.com

 

Abstrak

Revolusi lagu dalam karya musik keroncong menjadi sebuah tuntutan bagi perkembangan musik tersebut. Hierarki musik keroncong yang terlahir dari proses Hybridasi yang panjang dan kompleks menjadikan musik keroncong memiliki bentuk (form) yang baku dan memiliki ciri khas identitas tersendiri. Revolusi merupakan perubahan sepenuhnya dari satu aturan ke yang lainnya serta modifikasi terhadap aturan yang ada. Aturan di dalam bentuk lagu langgam keroncong dan lagu keroncong asli mempunyai peluang untuk di revolusi. Revolusi dilakukan dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah dasar dari bentuk lagu tersebut. Alterasi dan subtitusi akor, gerak melodi pada lagu ciptaan baru dengan melihat pergerakan subtitusi akor tersebut, serta pembawaan vokal dan aransemen yang mengikuti ‘zaman’ atau musik yang sedang popular dan berkembang saat ini.

 

KERONCONG SONG REVOLUTION IN MUSIC WORKS

STUDY: GROUP KERONCONG CONGROCK 17

 

Abstract

 

Revolution songs in the musical work kroncong be a demand for the development of the music. Hierarchies Keroncong born of the long and complex Hybridasi make Keroncong has the form (form) that is raw and has a characteristic of its own identity. Revolution is change completely from one rule to another as well as modifications to the existing rules. Rules in the form of songs and song style kroncong original kroncong have the opportunity for revolution. Revolution be done without leaving the basic rules of the form of the song. Alteration and substitution chords, melody motion on songs new creation by looking at the movement of the chord substitution, as well as the innate vocal and arrangements that follow the ‘age’ or music that are popular and growing today.

 

 

 

  1. PENDAHULUAN

Bengawan solo riwayatmu kini…..” begitulah cuplikan lagu yang berjudul Bengawan Solo Ciptaan Gesang (alm) yang ‘membumi’ dan sangat lekat diingatan setiap anak muda ketika penulis tanya: “lagu keroncong apa yang kalian ketahui?”. Dari 10 anak muda yang penulis beri pertanyaan tersebut sekitar 7 orang menjawab dengan judul lagu Bengawan Solo.[1]

Musik Keroncong merupakan contoh musik Hybrid yang terbaik, dimana berbagai sumber budaya dapat dilebur menjadi suatu identitas tersendiri.[2] Musik keroncong di Indonesia dalam perjalanan sejarahnya telah melalui proses serta seleksi di masyarakat sampai saat ini dan masih tetap bertahan. Sebagai musik popular yang pertama di Indonesia keroncong telah mengalami perkembangan bentuk dan gaya musiknya. Kehadiran musik keroncong merupakan bagian dari proses sejarah masuknya musik Barat ke Indonesia yang diperkenalkan melalui tiga jalur yaitu (1) melalui institusi keagamaan dalam bentuk musik liturgy Gerejani berbasis musik Barat; (2) melalui lembaga pendidikan dan media siaran radio; (3) melalui jati dirinya sebagai sebuah seni baru (ars nova). Seni yang mampu memberikan hiburan bagi masyarakat perkotaan yang bersifat egaliter, melalui proses akulturasi dengan berbagai warna lokal.[3]

Musik keroncong menjadi musik yang ‘minoritas’ di Indonesia pada masa sekarang (tahun 2016) seiring derasnya pengaruh musik pop dari Barat. Musik pop Indonesia secara umum memiliki karakter musikal Barat. Instrumentasinya didominasi alat-alat musik Barat, seperti gitar elektrik/akustik, drum, organ atau piano elektrik.[4] Selanjutnya pengaruh teknologi informatika yang semakin terbuka dan mudah di akses menjadikan segala informasi tentang musik seperti tanpa batas. Youtube menjadi salah satu website yang dapat menggunggah dan mengunduh segala macam informasi musik dalam bentuk audio visual.

HAMKRI (Himpunan Artis Musik Keroncong) yang menjadi wadah resmi berskala nasional bagi keberlangsungan musik keroncong telah membuat kegiatan lomba orkes musik keroncong sebagai upaya pelestarian dan pengembangan musik keroncong. Namun upaya tersebut masih belum signifikan dapat dirasakan dalam melawan derasnya arus perkembangan musik pop dan musik dangdut di kalangan masyarakat pada umumnya, serta generasi muda pada khususnya.

Dua tahun ini (2015 dan 2016) Sekolah Pilar Indonesia di Bogor, telah mengadakan ajang bergengsi bagi anak muda khususnya yaitu Festival Keroncong Muda Pilar Indonesia tingkat nasional. Peserta yang mengikuti ajang tersebut pada tahun 2016 berjumlah 10 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.[5] Sebagai bentuk usaha mengembangkan musik keroncong di kalangan anak muda di Indonesia patut kita beri apresiasi tinggi. Namun penulis menilai kreativitas yang muncul dalam ajang lomba tersebut masih sebatas pada kreativitas aransemen/garap musik dan bentuk pertunjukannya. Harapan sebuah revolusi musik sebagai upaya ‘membumikan’ kembali musik keroncong pada masa sekarang masih nampak terasa berat.

Secara sejarah dan kebudayaan musik keroncong merupakan identitas asli musik Indonesia, serta layak dipertahankan dan dilestarikan oleh rakyat Indonesia. Ibarat seperti oase di gurun pasir, revolusi lagu keroncong dalam musik keroncong sangat dibutuhkan pada saat ini. Sebagai salah satu alternatif bagi upaya pelestarian dan perkembangan musik keroncong di Indonesia.

 

  1. PEMBAHASAN

Secara etimologi kata revolusi berasal dari kata latin revolutio yang berarti “berputar arah” adalah perubahan fundamental (mendasar) dalam struktur atau organisasi yang terjadi dalam periode waktu yang relative singkat. Kata kuncinya adalah perubahan dalam waktu singkat. Aristoteles menggambarkan pada dasarnya ada 2 jenis revolusi yaitu: (1) perubahan sepenuhnya dari satu aturan ke yang lainnya; (2) modifikasi terhadap aturan yang ada.[6]

Musik keroncong memiliki pengertian yang kompleks. Secara definisi istilah keroncong merupakan sebuah istilah yang berasal dari unsur onomatopoetis (kata-kata yang dibentuk dengan mencontoh bunyi atau suara alamiah) yaitu alat musik yang berbunyi seperti “crong-crong”.[7]

Pengertian istilah keroncong telah mengalami perkembangan menurut situasi dan kondisi di Indonesia, sehingga menjadikan bangsa Indonesia memiliki hak atas kekayaan intelektual musik keroncong melalui pertimbangan sebagai berikut: (1) keroncong sebagai alat musik sejenis gitar lahir di Indonesia; (2) keroncong sebagai sebuah bentuk ensambel musik merupakan produk bangsa Indonesia; (3) keroncong sebagai sebuah pola ritmik yang khas merupakan hasil kreasi bangsa Indonesia; (4) keroncong sebagai sebuah permainan melodi yang mengalir (banyu mili) merupakan keberhasilan musikalitas ganda bangsa Indonesia; (5) keroncong sebagai jenis musik hiburan masyarakat perkotaan merupakan diakroni sejarah bangsa Indonesia; (6) keroncong sebagai musik hibrida dengan unsur pembentuknya yang multikultural mencerminkan kebhinekaan bangsa Indonesia; (7) keroncong merupakan istilah Indonesia untuk menamakan jenis musik milik bangsa Indonesia; (8) pengakuan dari para pakar musikologi akan kepemilikan Indonesia terhadap musik keroncong.[8]

Dari delapan pengertian keroncong yang disampaikan Victor Ganap, memberikan peluang bagi perkembangan musik keroncong di Indonesia tidak hanya sekedar perkembangan pada bentuk pertunjukan dan aransemen musik keroncong saja, tetapi dapat mengambil salah satu unsur dari pengertian tersebut.

Istilah revolusi di dalam musik keroncong merupakan istilah yang tidak baru. Pada tahun 1945 sampai tahun 1950 terdapat istilah jenis “Keroncong Revolusi” yaitu lagu-lagu dengan teks khusus mengenai revolusi dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Upaya khusus ini memanfaatkan keroncong secara politis yang diprakarsai oleh Jenderal Rudi Pirngadie dengan membentuk orkes keroncong Tetap Segar.[9] Bentuk revolusi yang nampak adalah penggunaan alat tradisional keroncong dengan mempergunakan musik elektronik, bahkan memasukan harpa dalam formasi orkesnya. Serta tidak hanya memainkan lagu tradisional keroncong tetapi juga menyanyikan lagu-lagu barat dalam irama keroncong.[10]

Pada awal tahun 2016 grup keroncong alternatif Congrock 17 membuat album lagu dengan tema “Revolusi”. Grup Congrok merupakan grup keroncong yang terbentuk pada 17 Maret 1983. Nama Congrok diambil dari genre musik yang dibawakan, yakni gabungan antara musik keroncong dan rock. Sedangkan angka 17 diambil dari almamater para pemainnya yaitu Universitas Tujuh Belas Agustus.

Usia yang tak lagi muda bagi grup musik Congrock yaitu 33 tahun konsisten dengan bentuk sajian yang tak ‘lazim’ atau tidak sesuai dengan ‘pakem’ keroncong asli. Dalam perjalanannya grup ini tak lepas dari pro dan kontra. Terlepas dari itu Congrok sebagai grup keroncong inovasi yang berupaya ‘menyegarkan’ dan ‘membebaskan’ musik keroncong dari kuatnya arus musik pop dan dangdut yang sedang membumi pada masyarakat saat ini.

Kornhauser menyatakan bahwa musik keroncong terdiri dari 7 buah instrumen yaitu: (1) Ukulele/Cuk; (2) Banyo/Cak; (3) Gitar melodi string; (4) Cello; (5) Contrabass; (6) Flute; (7) Biolin.[11] Ketujuh instrument tersebut merupakan bentuk formasi dari keroncong asli. Hingga saat ini di Indonesia grup-grup keroncong asli masih mempertahankan bentuk formasi tersebut. Formasi tersebut di dalam grup Congrock tetap dipertahankan, akan tetapi formasi tersebut dikembangkan (ditambahkan) beberapa alat musik diantaranya adalah Perkusi (Drum), dan Keyboard (synthesizer).

Album Revolusi Congrock 17 berisi 5 lagu, 3 diantaranya merupakan karya orisinil dari Congrock 17 yaitu lagu dengan judul Revolusi (Cipt.Tony Q.) merupakan jenis lagu genre Reggae. Lagu ini diaransemen dengan ‘gaya’ ciri khas Congrock 17 yaitu gabungan antara musik keroncong, dan musik Reggae.

Selanjutnya lagu berjudul Ada Didekapmu (Cipt. Hery Pethek) lagu ini merupakan sebuah revolusi dari lagu jenis langgam keroncong. Terdapat 3 jenis lagu di dalam musik keroncong, yaitu: (1) lagu keroncong asli/ disingkat “Kr.” yang ditulis di depan judul lagu; (2) lagu langgam keroncong/ disingkat “Lgm.” yang ditulis di depan judul lagu; (3) Stambul/ disingkat “Stb.” yang ditulis di depan judul lagu.

Lagu jenis langgam keroncong adalah terdiri dari 32 birama dengan rangka berbentuk A-A-B-A. Bagian B disebut refrain.[12] Revolusi yang nampak pada lagu ini adalah pada bagian awal lagu, melodi lagu tidak dimulai pada akor tonika (yang lazim terjadi pada jenis lagu langgam keroncong, contoh: Bengawan Solo, Jembatan Merah, rangkaian melati, dll), akan tetapi dimulai pada akor subdominan mayor seven (IVM7) serta gerakan melodi pada awal lagu dimulai pada nada kelima dari akor tersebut, dan pada birama kedua melodi dari nada kelima tersebut bergerak turun setengah, maka terjadilah volhart pada birama kedua ketukan ketiga.

Contoh cuplikan lagu langgam keroncong Bengawan Solo:

Contoh cuplikan revolusi lagu keroncong grup Congrock 17:

Revolusi lagu langgam keroncong grup Congrock 17 di atas tetap menjaga kaidah bentuk (form) lagu langgam keroncong, dimana biramanya tetap berjumlah 32 dan rangka lagunya berbentuk A-A-B-A serta pada prinsipnya revolusi lagu tersebut meng-alterasi serta menyubtitusi akor/harmoni yang biasa/lazim digunakan dalam lagu-lagu langgam keroncong pada umumnya.

Penggunaan akor dominan 7 menjadi ciri khas yang sedang trend dan berkembang pada musik pop pada masa ini serta banyak disukai dan diminati anak-anak muda. Kesan (‘sance’) yang ditimbulkan dari lagu langgam tersebut terasa ‘kekinian’ dan tema syair lagunya berisi tentang ‘percintaan’ yang juga sedang menjadi trend lagu-lagu pop pada saat ini.

Lagu ketiga Congrock 17 berjudul Kr.Kenangan (Cipt.Yono CR), lagu tersebut merupakan lagu dengan bentuk lagu keroncong asli. Secara bentuk keroncong asli berdasarkan suatu kerangka dengan jumlah 28 birama, yang dibagi frase-frase masing-masing sepanjang empat birama.[13]

Jenis lagu keroncong asli ini diawali oleh introduksi yang disebut voorspel, merupakan rangkaian kadensa yang terdiri dari tiga frase. Kadensa tersebut biasanya dimainkan oleh flute, biola, atau gitar. Kaden pada frase pertama berakhir pada akor I yang diikuti/disambut oleh ‘seksi ritm’. Kaden pada frase kedua berakhir pada akor V yang juga diikuti/disambut oleh seksi ritem. Kaden ketiga atau terakhir berakhir pada akor I yang diikuti oleh seksi ritem yang lansung memainkan pola irama (biasanya irama engkel). Setelah itu biola atau flute memainkan melodi yang disebut dengan istilah ‘senggaan’ (sebuah melodi yang berjumlah empat birama, yang diambil dari delapan birama terakhir, termasuk birama gantungnya). Jenis keroncong asli ini biasanya dinyanyikan dua kali. Setelah penyanyi menyanyikan satu lagu utuh, musik memainkan interlude berupa ‘senggaan’   seperti yang         pertama tersebut. Contoh lagu: Kr. (Keroncong) Bandar Jakarta, Kr. Tanah Airku, Kr. Moritsko.[14]

Lagu bentuk keroncong yang di revolusi Congrock 17 tidak menggunakan Voorfel sebagai intoduksi, akan tetapi menggunakan intro musik seperti pada musik pop pada umumnya. Selain pada bagian introduksi, melodi pada lagu tersebut tidak seperti pada lagu keroncong pada umumnya. Dimana melodi lagu sangat terpengaruhi oleh lagu-lagu pop pada masa sekarang.

Pembawaan vokal pada jenis lagu keroncong asli dan langgam keroncong tidak lagi seperti pada pembawaan vokal pada umumnya dimana terdapat teknik nggandul, cengkok, gregel, dan luk yang menjadi ciri khas serta ‘ruh’ dari keroncong asli. Pembawaan lagu pada jenis lagu keroncong asli dan langgam keroncong pada album revolusi Congrock 17 menggunakan pembawaan lagu musik pop.

Sebagai akhir usaha merevolusi lagu keronocong adalah pada bagian aransemen lagu. Dimana pada grup Congrock 17 pada album Revolusi aransemen lagu yang digunakan sangat kental dengan gaya (style) aransemen musik pop masa kini (yang sedang berkembang).

 

  1. SIMPULAN

Keroncong sebagai warisan budaya leluhur asli Indonesia, yang terlahir dari proses panjang Hybridasi dari berbagai budaya yang melebur menjadi satu identitas tersendiri. Musik keroncong yang dapat menyesuaikan dengan keadaan hierarki budaya nusantara dapat menjadi identitas yang menarik bagi bangsa Indonesia. Perkembangan musik pada era digital yang semakin terbuka dan tanpa batas menuntut revolusi pada musik keroncong agar dapat diterima semua lapisan masyarakat (multi etnis) seperti musik dangdut dan pop saat ini.

Revolusi musik keronocong dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya: (1) meng-alterasi serta menyubtitusi harmoni/akor pada lagu langgam keroncong dan lagu keroncong asli; (2) melodi yang disusun untuk lagu keroncong asli maupun langgam keroncong merupakan bagian dari harmoni yang disubtitusi; (3) pembawaan vokal pada lagu keroncong asli dan langgam keroncong menggunakan teknik vokal pop (mengikuti zaman); (4) aransemen musik dibuat dengan gaya (style) musik masa kini yang sedang berkembang.

 

Kepustakaan

 

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius.

 

Ganap, Victor. 2011. Krontjong Toegoe, Yogyakarta:BP-ISI Yogyakarta.

 

Harmunah. 1980. Sejarah, Gaya Dan Perkembangan Musik Keroncong, Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.

 

Hastanto, Sri. 2011. Kajian Musik Nusantara-1. Solo:ISI Press Solo.

 

Kornhauser, Bronia. 1978. dalam makalah “In Defence of Keroncong”, di dalam: Kartomi, Margret (ed) “Studies in Indonesia Music”, Clayton, Victoria.

 

Mack, Dieter. Sejarah Musik Jilid 4, Pusat Musik Liturgi Yogyakarta, Yogyakarta,1995.

 

Pasaribu, Ben M. 2006. Musik Populer. Jakarta: Lembaga Pendidikan Seni Nusantara.

 

Sanjaya, Singgih. 2014. “KERONCONG” Sebuah Genre Musik Hibrid Antara Musik Diatonis Barat Dengan Idiom Gamelan Jawa, makalah. Semarang: Rembug Keroncong Indonesia.

 

Simatupang, Landung. 2016. Merenungkan Gema Perjumpaan Musikal Indonesia-Belanda. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

 

Sumber Website:

 

http://www.sekolah-pilar-indonesia.sch.id/Events/festival-keroncong-muda-pilar-indonesia-2016.html

 

http://revo-mental.blogspot.co.id/2014/07/pengertian-revolusi-mental.html

 

 

[1] Hasil analisis penulis terhadap anak muda yang ditanya secara acak dalam waktu dan tempat yang berbeda.

[2] Bronia Kornhauser dalam makalah “In Defence of Keroncong”, di dalam: Kartomi, Margret (ed) “Studies in Indonesia Music”, Clayton, Victoria 1978.

[3] Victor Ganap, Krontjong Toegoe (Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2011), 126.

[4] Ben M. Pasaribu, Musik Populer (Jakarta: Lembaga Pendidikan Seni Nusantara, 2006), 72.

[5] Sumber http://www.sekolah-pilar-indonesia.sch.id/Events/festival-keroncong-muda-pilar-indonesia-2016.html

[6] Sumber http://revo-mental.blogspot.co.id/2014/07/pengertian-revolusi-mental.html

[7] Dieter Mack, Sejarah Musik Jilid IV (Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi,2009), 581.

[8] Victor Ganap, dalam makalah Keroncong Indonesia: Identitas dan Sejarahnya yang disampaikan dalam Rembug Keroncong Indonesia di Semarang pada 31 Mei 2014.

[9] Dieter Mack, Sejarah Musik Jilid IV (Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 2009), 583.

[10] Pono Banoe, Kamus Musik (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 219.

[11] Bronia Kornhauser dalam makalah “In Defence of Keroncong”, di dalam: Kartomi, Margret (ed) “Studies in Indonesia Music”, Clayton, Victoria 1978.

[12] Pono Banoe, Kamus Musik (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 218.

[13] Dieter Mack, Sejarah Musik Jilid IV (Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 2009), 583.

[14] Singgih Sanjaya, dalam makalah “KERONCONG” Sebuah Genre Musik Hibrid Antara Musik Diatonis Barat Dengan Idiom Gamelan Jawa yang disampaikan pada Rembug Keroncong Indonesia di Semarang pada 31 Mei 2014.

MUSIK BARAT (‘udara’) DAN TIMUR (‘air’) YANG CAIR

oleh    : Ibnu Amar M.

“bahasa musik melampaui batas bahasa, kebudayaan bahkan agama”

Romo Prier-

 

Sebagai seni yang dianggap paling tua bahkan pada awal munculnya kehidupan ‘musik’ telah hadir secara ‘sadar’ maupun ‘tak sadar’ dalam ruang dan waktu. Musik merupakan seni yang dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang ‘kecil’, ‘halus’, ‘rawit’ serta memiliki unsur-unsur yang sangat kompleks. Sifat kecil dan halus tersebut yang menyerupai sifat air yang bersifat cair dapat menembus kedalam celah-celah kehidupan yang mikroskupik. Bahkan sebuah pernyataan saya yang sangat radikal bahwa “kehidupan ini tak bisa dipisahkan dengan musik”. Seperti kita tak akan hidup tanpa adanya air, sebab air merupakan salah satu dari empat komponen mutlak dan absolut kehidupan ini (‘air, api, udara, dan tanah’).

Entah sebuah kebetulan atau sebuah ‘wangsit’ (maaf saya pilih kata wangsit sebenarnya ingin memakai kata mukjizat tapi akan lebih salah dimengerti) saat saya merenung judul diskusi yang digagas oleh ‘mas dhoni’ dengan judul yang sangat ekstrim dikotomi barat dan timur dan disatukan dengan kata cair yang sempat membuat saya luluh dan haru (akhirnya kesampean dapat diskusi tema tersebut setelah sekian lamanya menanti) memang ada kekuatan yang ingin diraih dari judul tersebut, namun juga sempat membawa saya pada satu persepsi ‘paradoks’. Maaf jika tulisan ini lebih mengarah kepada cara pandang dan persepsi saya dengan keterbatasan wawasan. Tepat pukul 18.24 wib angka di jam saya menunjuk saat saya mengetik tulisan ini. Kembali kepermasalahan kebetulan atau wangsit tadi saya sebagai orang yang terlahir di jawa dan sejak kecil selalu hobi ‘menghubung-hubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain’ (otak atik gathuk). Diskusi musik barat dan timur yang kebetulan posisi kita berada pada wilayah timur, jika kita melihat arah mata angin dan hubungannya dengan 4 elemen kehidupan tadi dimana posisi timur adalah memiliki simbol air dan posisi barat bersimbol udara (angin). Yah, mungkin sampai disini teman-teman semakin tertawa dengan apa yang ada di dalam fikiran saya. Tapi saya ulangi untuk yang ketiga kalinya bahwa ini sebuah kebetulan atau wangsit tapi begitulah adanya bahwa yang mencair itu adalah air dan sejatinya di dalam air pasti terdapat kandungan udara (O2).

Secara pribadi saya masih berusaha menyangkal dan tidak pernah percaya adanya dikotomi barat dan timur, apalagi di jaman yang sangat terbuka dan tanpa sekat dari seluruh penjuru bumi. Yang paling fatal jika dikotomi barat dan timur akan mengarah pada dasar pikir pola dua dimana hidup itu pemisahan, hidup itu persaingan, hidup itu konflik dan hidup itu perang! (yah walau fenomenanya muncul seperti itu juga). Adanya cara pandang barat dan timur tidak hanya mengarah pada kenyataan ruang dan waktu saja. Keduanya yang saat ini berada dalam ruang waktu yang sama akan nampak seperti gelembung udara didalam botol yang berisi air pada tabung gas oksigen yang menyembur melalui selang kelubang hidung pasien yang sesak nafas atau koma. Angin tersebut menjadi salah satu usaha untuk menyelamatkan hidup dan atau memulihkan makhluk tersebut.

Ada dua pola dua yang muncul dalam kehidupan musik dan sehari-hari kita yaitu mayor dan minor. Akan menjadi indah keduanya saat istilah tersebut muncul pada khidupan bermusik dan akan berlawanan saat muncul pada kehidupan sehari-hari. Dualisme mayor yang lebih dominan seperti maskulin pada kesenjangan gender yang mengalahkan minor hingga muncul fenomena ‘lebay’ memandang kaum mayor-itas yang terhina oleh kaum minor-itas. Nampaknya memang pola dua pada mayor dan minor tidak menarik untuk diperbandingkan dalam kehidupan musik dan sehari-hari. Namun cara pandang tersebut akan mengantarkan kita pada tema diskusi malam ini. Dimana nampak bahwa musik barat terlihat mayor dan musik timur terlihat minor (maaf perlu kita batasi wilayah timur yang dimaksud adalah negeri kita dan secara khusus musik karawitan).

Muncul fenomena yang terjadi tak sedikit para pelaku musik timur yang takut dan khawatir dengan kehadiran musik barat yang tidak dapat dibendung mengancam keberadaan musik minor tersebut. Pelbagai upaya dihadirkan untuk tetap mempertahankan eksistensi musik minor tersebut. Alih-alih mengembangkan musik minor, malah perubahan yang terjadi. (maaf jika penggunaan alih-alihnya salah ya bro!). Merawat-mengembangkan-merubah merupakan tiga pilihan yang dapat ditempuh oleh generasi now untuk membawa musik minor kemana?

Sel-sel tubuh manusia sekarang tak dapat terlepas dari adanya fenomena budaya pop yang mengantar pada selera musik pop, namun tak banyak yang mengerti perbedaan komposisi musik pop dengan musik seni (tradisi dan klasik) bahwasannya (1) pop itu sepenuhnya homofonik (melodi dan harmoninya); (2) lirik merupakan aspek penting; kata yang dinyanyikan dengan melodimerupakan elemen yang dominan; (3) genre ini memiliki bentuk yang umum; (4) satu lagu hanya memiliki satu mood/suasana; (5) durasinya seragam; (6) struktur frasenyasama ditambah, (7) ketukan tetap, dan (8) banyak repetisi frase dalam satu lagu; (9) melodi yang dinyanyikan bersamaandengan makna teksnya adalah yang paling diingat dan dinyanyikan dirumah bersama teman-teman. Musik pop tidak bisa populer tanpa lirik.

Selera pasar musik pop memang menjadi mayoritas, dan penjabaran tentang komposisi musik pop sebagai satu wacana bagi para teman-teman musisi musik seni (tradisi dan klasik) untuk mencair dan merembes kedalam celah-celah sel tubuh yang kadung membentuk tubuh di era now. Tak perlu berteriak seperti kaum-kaum mayor yang merasa minor tanpa ada sebuah solusi yang lebih nyeni dan hanya memunculkan pola dua saling menghakimi.

Demikianlah coretan dari pikiran saya yang blur bahkan maha abstrak sebagai sebuah dekontruksi kenormalan optik kita melihat segala fenomena musikal. Sebagai akhir bahwa udara dan air tak dapat dipisahkan dan keduanya merupakan elemen kehidupan, tanpa salah satu kita tak akan dapat hidup. Terimakasih….

 

Bacaan:

Sejarah musik 1 –Karl edmung Orier

Membuat musik biasa jadi luar biasa –Prof.Vincent

Estetika Paradoks –Jakob Sumardjo